warna warni kehidupan

hidup itu indah adanya
Subscribe

Waktu terus berjalan…

January 05, 2016 By: andry Category: motivasi, refleksi

WAKTU terus berjalan dan TIDAK AKAN ada KESEMPATAN untuk kembali ke WAKTU yang sama.. berusahalah untuk selalu ber-BUAT yang ter-BAIK setiap saat.. Yang terpenting lagi, kita tidak pernah tau berapa SISA WAKTU kita. Jangan isi SISA WAKTU ini dengan hal-hal yang sia-sia.. Berusahalah untuk membahagiakan orang tua, keluarga dan sesama selagi kita bisa, karena HIDUP bukan sekedar mementingkan kata AKU, AKU dan AKU ‪#‎if‬-tomorrow-never-comes#

Kebebasan penuh untuk memilih…

October 08, 2015 By: andry Category: motivasi, refleksi

Kita memiliki kebebasan penuh untuk memilih 2 cara pandang dalam menjalani hari ini yaitu men-SYUKURI apa yang kita punyai atau sebaliknya sibuk MENYESALI apa yang tidak kita punyai..

Jangan Gantungkan Sukacita Kita kepada Orang Lain..

February 02, 2015 By: andry Category: motivasi, refleksi

Ada seorang teman curhat kepada saya :
Ndry, saya kok perasaan dirundung masalaaaah terus gak habis-habis.. keluargaku seperti ini, keuanganku seperti ini, teman2ku seperti ini, gak ada orang yang mengerti aku, gak ada orang yang mau nolong aku, bos ku seperti ini, anak buahku gak ada yang beres, bla-bla, bla… kok rasanya hidupku gak ada mulus2nya sama sekali”.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi buat saya sendiri…

Seringkali permasalahan utama manusia adalah menggantungkan sukacita nya kepada manusia lain dan lingkungannya. Padahal dari dulu jaman SD sudah diajari bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak sempurna, makhluk egois, makhluk yang tidak pernah lepas dari kesalahan – kesalahan karena keterbatasan sebagai insan yang berdosa.

Saat suami atau istri atau pasangan atau orang tua atau sahabat bahkan anak2 kita melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, maka kita mulai merasa kecewa dan merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia. Kalau saja kita mau jujur, betapa seringnya kita menuntut orang lain menjadi seperti yang kita inginkan melalui kacamata persepsi kita.
Lebih parah lagi, bahkan untuk beberapa orang, dengan kondisi seperti ini, mulai curhat bahkan mengumbar cacian dan kata-kata yang kurang pantas di media social sehingga menjadi bahan pergunjingan.
Percayalah mengeluh di media sosial tidak akan membuat kita bebas dari tekanan, tetapi membangun persepsi negatif orang lain kepada kita.
Sekali dua kali mungkin orang akan menaruh iba dan menunjukan empatinya, tetapi kalau kita terlalu sering mengeluh dan mengumpat dengan kata-kata kasar, perlahan-lahan orang akan merasa malas menanggapinya.

Sekali lagi bahwa “no body’s perfect”.
Jangan biarkan mood atau sukacita kita tergantung dengan orang lain tapi yakinlah bahwa setiap hal yang kita alami adalah sebuah proses pendewasaan.

Satu-satunya tempat kita bergantung adalah iman kita terhadap Tuhan Sang Maha
Kita mungkin tidak akan mampu memahami jalan-Nya, tetapi percayalah bahwa Tuhan punya cara-Nya sendiri dan jalan-Nya tidak akan pernah salah.. Kita hanya perlu percaya..

Jadilah pribadi yang selalu bersyukur…

December 23, 2014 By: andry Category: motivasi, refleksi

Jadilah pribadi yang selalu bersyukur dalam segala hal, nikmati lah setiap detik dan moment yang kita jalani karena belum tentu ada hari esok ‪#‎if‬-tomorrow-never-comes#

Jadikan BAHAGIA itu GAYA HIDUP.. #edisi berpikir positif#

December 06, 2014 By: andry Category: motivasi, refleksi

PIKIRAN adalah karunia TUHAN yang luar biasa, dan hebatnya kita sebagai manusia memiliki kebebasan bagaimana mengisi ruang PIKIRAN tersebut.
Permasalahannya adalah manusia seringkali mengisinya dengan hal-hal yang NEGATIF, misalkan saat ada orang lain melakukan hal yang tidak kita sukai seperti mengkritik kita atau menjatuhkan kita atau berbeda pendapat dengan kita, hal umum yang pertama kali yang masuk dalam PIKIRAN kita adalah PIKIRAN NEGATIF terhadap orang tersebut.

Padahal kalau kita renungkan..
PIKIRAN NEGATIF terhadap orang lain TIDAK AKAN pernah bisa memperbaiki ataupun menyadarkan orang lain tersebut.
Saat kita bereaksi negatif maka berpotensi untuk membuat kondisi dan situasi semakin panas, dan jika dibiarkan berlanjut, PIKIRAN NEGATIF itu akan menghantui dan mengganggu kita sendiri sedangkan orang lain yang kita pikirkan tersebut akan terbahak2 saat tau kita tidak tenang dan terganggu dengan situasi tersebut.
Lebih ekstrem lagi, tanpa kita sadari, kadang kadang orang tua, istri, anak, keluarga, atau orang lain di sekitar kita yang tidak tahu-menahu kondisi ini menjadi korban amarah atau kekesalan kita. Aneh kan????

Dengan kata lain, PIKIRAN NEGATIF yang kita ciptakan ini hanya akan membuat kita terjebak dan kalah..
SITUASI dan PIKIRAN NEGATIF itu menggerogoti diri kita sendiri.

Sebaliknya..
kalau kita mengisi PIKIRAN kita dengan KASIH seperti yang dikehendaki TUHAN, percayalah tidak akan ada situasi yang bisa merenggut SUKACITA kita.
Belajarlah untuk mendoakan dan mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Dengan pikiran yang jernih seperti ini, kita pasti lebih bisa memikirkan jalan keluar untuk memecahkan persoalan dan belajar dari pengalaman.
Pikirkanlah bahwa kemungkinan dalam situasi yang sama, jika kita adalah orang tersebut, mungkin kita akan melakukan yang sama.
Ber-SYUKUR-lah bahwa karena dengan adanya kritikan, perbedaan pendapat dan sandungan-sandungan kecil dalam hidup itulah yang menjadikan kita semakin DEWASA.

Jangan biarkan SUKACITA kita tergantung dan direnggut oleh orang lain ataupun situasi lingkungan kita.

Mulailah membiasakan diri untuk selalu BERPIKIR POSITIF terhadap orang lain, maka dengan sendirinya BAHAGIA bukan lagi menjadi TUJUAN tapi menjadi GAYA HIDUP kita.

KEKAYAAN itu adalah…

October 25, 2013 By: andry Category: motivasi, refleksi

Bukankah seringkali kita terjebak dengan pencarian “KEBAHAGIAAN” melalui sesuatu yang disebut “KEKAYAAN”, padahal kita seringkali melupakan esensi dari arti KEKAYAAN itu sendiri.

Bila kita punya sedikit waktu saja mau merefleksikan diri, ada ilustrasi sederhana yang bisa menjadi gambaran apa yang dikatakan sebagai KEKAYAAN tersebut…

Ada seorang pemuda yang baru lulus pendidikan dan pertama kali mulai bekerja mendapatkan gaji 3 juta rupiah, pastinya dia akan merasa bersyukur mendapatkan pekerjaan tersebut. Dia akan mulai kehidupannya dengan nilai rupiah tersebut, mungkin dia akan mencari rumah kontrakan yang sederhana dan merasa cukup dengan memiliki sebuah sepeda motor untuk mendukung kegiatannya.

Namun sejalan berkembang karirnya dan memiliki gaji 10 juta rupiah, maka dia akan mulai mencicil rumah dan sebuah mobil sehingga mulailah pemuda tersebut mempunyai kewajiban untuk membayar cicilan per bulan yang semakin besar.

Dan waktu terus berlalu, saat memiliki gaji 20 juta rupiah, maka dia akan mencicil rumah yang lebih besar dan mobil yang lebih mewah, bahkan mungkin saja pemuda tersebut akan merasa lebih tertekan dari sebelumnya karena hutang yang ditanggung semakin besar. Ditambah lagi dengan kesuksesannya itu, pasti banyak orang-orang yang berusaha memanfaatkan dan bergantung pada pemuda tersebut.

Jadi apa yang membedakan saat dia masih memiliki gaji 3 juta rupiah dengan saat dia memiliki gaji 20 juta rupiah? Toh, berapapun nominalnya akan selalu kurang? Malah mungkin saat memiliki gaji 20 juta, dia akan merasa lebih tertekan karena gaya hidupnya menuntut untuk lebih lebih dan lebih lagi, akibatnya berbagai cara akan dia lakukan untuk mencukupi kebutuhan dan hutang-hutang yang melilitnya.

Ilustrasi inilah yang menggambarkan mengapa begitu banyak pejabat negeri ini yang memiliki pendapatan mencapai 100 – 200 juta per bulan tetap merasa kurang dan akhirnya melakukan tindakan yang tidak benar. Orang-orang ini tidak akan pernah merasa KAYA. Sangat mengherankan saat barang-barangnya disita ditemukan banyak mobil mewah yang mungkin tidak pernah digunakan. Lalu kenapa harus dibeli?? Pastinya bukan karena KEBUTUHAN, tetapi karena KESOMBONGAN dan KEINGINAN yang tidak bermanfaat.

Memang tepat ada sebuah ungkapan : “Seringkali yang membuat kita MERASA MISKIN dan KURANG bukan karena BIAYA HIDUP, tetapi karena GAYA HIDUP”.

Jadi jelas sekali bahwa KEKAYAAN itu tidak bisa sepenuhnya diukur dari MATERI.

Esensi KEKAYAAN bukan dari banyaknya MATERI yang kita punya, tapi tentang MENSYUKURI dan MENCUKUPKAN DIRI dengan apa kita punya.

Sebenarnya yang perlu diingat juga bahwa SEMUA MILIK KITA hanya titipan dari TUHAN dan SEBAGIANnya merupakan HAK untuk ORANG LAIN yang membutuhkannya dan kita ditugaskan untuk menjadi jalan berkat.
Di saat kita mencoba menyimpannya untuk memenuhi AMBISI dan KEPENTINGAN ego kita, maka KETIDAKSEIMBANGAN akan tercipta dan mulai melemahkan Hati Nurani.

PERCAYALAH… kita tidak akan berbahagia dengan ketidakseimbangan ini dan sebaliknya saat kita bisa menjaga keseimbangan tersebut, maka disitulah kita bisa disebut KAYA.