Katak yang Ingin Sebesar Lembu (Tahu diri dan tahu batas..)
Di sebuah padang rumput, seekor katak melihat lembu sedang merumput. Tubuh lembu itu besar dan gagah, membuat sang katak kagum dan terselip rasa iri hati.
“Aku juga bisa sebesar dia,” katanya kepada teman-temannya.
Katak mulai menghirup udara dan menggembungkan tubuhnya.
“Apakah aku sudah sebesar lembu?”
“Belum,” jawab teman-temannya.
Ia menggembungkan tubuhnya lebih besar lagi.
“Kalau sekarang?”
“Masih jauh, kamu adalah katak, tubuhmu berbeda dengan lembu.”
Namun, katak menganggap nasehat dan masukan itu sebagai keraguan terhadap kemampuannya.

“Kalian lihat saja, aku pasti bisa!”
Ia terus memaksakan diri. Teman-temannya mulai kuatir dan meminta ia berhenti, tetapi ia tidak mau mendengar, akhirnya katak itu kehabisan nafas dan lemas karena terus menggembung melampaui kemampuannya.
Dari fabel tentang katak yang ingin sebesar lembu ini, ada 2 hal penting yang dapat menjadi refleksi kita:
- Ilmu “TAHU DIRI” : mengenali diri kita sendiri.
Katak melihat kelebihan lembu, tetapi melupakan kelebihannya sendiri. Ia bisa melompat, berenang, dan hidup di tempat yang tidak bisa dihuni lembu.
Seringkali kita melihat kehidupan orang lain lebih nyaman sampai kita kehilangan rasa bersyukur dan berusaha menjadi seperti orang lain tersebut, padahal kalau kita berpikir lebih dalam kita juga memiliki peran dan kelebihan yang lain yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Di sinilah kita harus memiliki ilmu TAHU DIRI, yang berarti mengenali kekuatan, kekurangan, peran, dan hal-hal yang masih perlu kita pelajari. Kita boleh mengagumi orang lain tanpa harus kehilangan penghargaan terhadap diri sendiri.
- Ilmu “TAHU BATAS”: memahami kapan perlu berhenti atau mengubah cara.
Katak ingin berkembang, tetapi memilih cara yang membahayakan dirinya. Bahkan sebenarnya rekan-rekannya sudah mengingatkan, tetapi dia mengabaikan tanda bahaya dan menolak masukan.
Sikap ini juga mewakili sikap kita yang seringkali mencoba menjadi orang lain dengan cara yang tidak cocok dan beresiko untuk kita, karena memang bukan kapasitas maupun kompetensi kita.
Ilmu TAHU BATAS berarti memahami kapasitas, kewenangan, etika, dan keselamatan. Batas kemampuan dapat diperluas melalui latihan dan pembelajaran, batas etika dan keselamatan harus dihormati.
Dalam dunia kerja juga demikian, seorang pemimpin perlu tahu diri bahwa jabatan tidak membuatnya paling tahu, sehingga ia tetap membutuhkan keahlian dan masukan tim.
Ia juga perlu tahu batas bahwa target tinggi harus disertai sumber daya yang cukup, dan ambisi pencapaian tidak boleh mengorbankan keselamatan maupun integritas.
Demikian juga sebagai pekerja, kita juga mencoba untuk bekerja sebaik-baiknya sesuai tanggungjawab dan kompetensi kita dengan tetap terbuka menerima masukan-masukan yang akan meningkatkan kemampuan serta kompetensi kita, sekaligus sebagai peringatan apa yang kita lakukan sudah sesuai atau melebihi batas yang membahayakan kita maupun organisasi.
“TAHU DIRI membuat kita bersyukur dan mengenal diri sendiri serta rendah hati untuk terus belajar, TAHU BATAS membuat kita bijaksana dalam bertindak.”
“Teruslah bertumbuh. Kenali potensi diri, perluas kemampuan, dan pahami batas yang harus dijaga.”













