warna warni kehidupan

hidup itu indah adanya
Subscribe

Terpenjara dalam keyakinan..

October 06, 2020 By: andry Category: motivasi, refleksi

Seorang anak yang sedang berekreasi di kebun binatang, terlihat sangat tertarik memperhatikan sebuah lapangan besar tanpa kandang pembatas yang di dalamnya ada sekumpulan gajah yang berbadan sangat besar.

Yang menarik buat anak tersebut adalah melihat fakta bahwa kaki gajah-gajah tersebut hanya diikat dengan seutas tali kecil. Jelas sekali bahwa gajah-gajah tersebut bisa dengan mudah melepaskan diri dari ikatan mereka kapan saja, namun kenyataannya gajah tersebut tidak melakukannya.

Dalam pemikiran anak tersebut, dengan ukuran besar dan tenaga seekor gajah, seharusnya diikat dengan rantai dan dimasukkan ke kandang yang kuat dan tinggi.

Karena penasaran, kemudian dia mendekat ke salah seorang pelatih di situ dan bertanya “Mengapa hewan-hewan itu hanya berdiri di sana dan tidak berusaha untuk melarikan diri?”

Pelatih tersebut menjawab bahwa ketika gajah-gajah tersebut masih sangat kecil, pelatih gajah menggunakan ukuran tali yang sama untuk mengikat mereka. Namun karena gajah tersebut memang masih kecil, maka tali itu sudah cukup untuk menahan mereka. Pada awalnya gajah-gajah kecil tersebut akan meronta berusaha keras melepaskan ikatannya tapi tentu saja tidak berhasil dan malah menyakiti dirinya sendiri, hal tersebut berulang-ulang sampai pada akhirnya gajah kecil tersebut akan menyerah.

Saat mereka tumbuh dewasa, mereka terkondisi untuk ter-PENJARA dalam ke-YAKIN-an bahwa tali yang masih terikat dikaki tersebut masih bisa menahan mereka dan mereka tidak akan dapat melepaskan diri, sehingga mereka tidak pernah mencoba lagi untuk membebaskan diri.

Belajar dari cerita ini, banyak manusia yang menjalani hidup tergantung pada suatu keyakinan bahwa dia tidak bisa ini, tidak bisa itu. Batasan-batasan ini tumbuh subur dan mengakar dalam alam bawah sadarnya.

Batasan-batasan ini bisa dari orang tua, lingkungan, teman, buku-buku yang kita baca, berita yang kita dengar atau hal-hal yang kita tonton. Secara sadar atau tidak sadar kita memasukkan keyakinan ini dalam benak dan alam bawah sadar.

Saya pernah mendengar salah satu kerabat yang terkena perampingan pekerjaan, berkata bahwa saya hanya paham di bidang marketing, tidak mungkin saya bisa berhasil di bidang lain, dan akhirnya sampai saat ini terjadilah demikian, masih menunggu lowongan sesuai yang diharapkan.

Saya juga pernah mendengar seorang rekan bercerita bahwa sifat pemarahnya didapat dari orangtuanya, sehingga wajar kalau dia juga tumbuh menjadi seorang pemanah. Dia berpendapat bahwa kalau sudah sifat, tidak akan bisa dirubah.

Lah, kalau sifatnya negatif, apa iya mau disimpan terus. Kalau kita tidak yakin bahwa sifat-sifat negatif bisa dirubah, mau seperti apa ke depannya? Apakah mungkin kita bisa maju?

Mari kita belajar bahwa kegagalan atau hambatan masa lalu tidaklah menjadi keyakinan yang memenjarakan hidup kita, tetapi harusnya menjadi suatu pelajaran berharga untuk melangkah lebih optimis ke masa depan.

#tulisan ini dikembangkan dari cerita gajah dan seutas tali dari berbagai sumber/ website termasuk gambar yang digunakan

Kisah tentang seekor katak dan seekor tikus..

September 02, 2020 By: andry Category: motivasi, refleksi

Alkisah..

Ada seekor katak yang bersahabat dengan seekor tikus.
Si katak yang bisa hidup di dua alam, tinggal di sebuah kolam sedangkan si tikus tinggal dalam lubang sebuah bawah pohon di tepi kolam tersebut. Kebiasaan si katak setiap pagi setelah bangun, maka dia akan keluar dari kolam dan berkunjung serta menghabiskan waktu bermain ke rumah si tikus.

Pada suatu hari, entah kenapa, tiba-tiba ada pemikiran terlintas dalam pikiran si katak “kenapa harus selalu saya yang berjuang ke rumah si tikus? Seharusnya sebagai seorang sahabat yang baik, sesekali dia berinisiatif dong berkunjung ke rumah ku juga, ini sangat tidak adil”. Berhari-hari si katak memikirkan hal tersebut, namun tidak menyampaikan langsung ke si tikus karena menurutnya sebagai sahabat yang baik, seharusnya si tikus mengerti sendiri dan menawarkan diri untuk ke rumahnya sebagai timbal balik karena si katak setia mengunjungi si tikus. Semakin lama si katak memikirkan hal tersebut, semakin sakit hati tertanam, sampai suatu saat dia berniat untuk memaksa si tikus agar mau berkunjung ke rumahnya.

Saat si tikus lengah, tiba-tiba si katak mengikat kaki si tikus dengan seutas tali rumput yang kuat dan kemudian juga mengikatkannya ke kakinya. Kemudian si katak melompat dan menyeret si tikus yang kaget dan tidak sempat berpikir panjang. Sesampai di tepi kolam, sang katak langsung melompat ke dalam kolam dan berenang menuju kediamannya.
Si tikus yang tidak bisa berenang dan tidak bisa bernafas dalam air, tentunya tidak bertahan lama dan segera kehabisan nafas dan tenggelam.
Begitu sang katak menyadari bahwa sahabatnya tidak bergerak, langsung kembali ke tepi kolam dan mendapati bahwa sahabatnya sudah mati, dan menyesallah si katak…
THE END

Ada yang bisa kita renungkan dari cerita ini, bahwa seringkali kita juga bersikap sama seperti si katak yang berpikir bahwa orang lain tahu dan paham apa yang ada di pikiran kita.
Hal yang sangat sederhana saja, jika si katak menyampaikan pikirannya dengan baik, tentunya si tikus bisa menyampaikan alasan mengapa dia tidak bisa ke rumah si katak.

Sebagai pasangan suami dan istri..
Sebagai orang tua dan anak..
Sebagai saudara dan keluarga
Sabagai sahabat, teman atau rekan kerja..
Seringkali kita ingin dan memaksakan orang-orang di sekitar kita paham apa yang kita pikirkan dengan alasan bahwa kalau menyayangi atau menghargai kita, maka pasti tahu apa yang kita ingin dan pikirkan..
Sebelum terjadi hal-hal yang buruk dalam suatu hubungan, mari kita berusaha untuk selalu berkomunikasi yang baik, kita diberi mulut dan bahasa untuk menyampaikan apa yang ada di pikiran kita..
Tuhan memberkati..

#cerita dan gambar dikutip dan dikembangkan dari berbagai sumber di website tentang fabel#